(Sumber Foto)
Dalam malam menyambut hari kemenangan, yang seharusnya disambut dengan penuh suka cita dan gegap gempita. Tapi, tidak untuk Jelita Afifa. Seorang gadis yang usianya baru 18 tahun dan baru masuk di bangku kuliah di tahun pertama. Dia terlihat murung di sudut ruang rumah sakit, menunggui ibunya yang sedang dirawat karena mengidap penyakit serius yang belum terdiagnosis oleh dokter. Koma sudah hampir 1 minggu. Tapi, menurut daftar riwayat medis, ternyata ibu Jelita pernah mendapat serangan jantung. Iya, malam ini adalah malam hari raya Idul Fitri, dari kejauhan terdengar sayup2 di telinga Jelita suara takbir yang sahut menyahut riuh rendah.
Esok adalah hari Lebaran, tapi ibu Jelita justru terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan sprei putih dan selimut bergarisnya. Ayahnya memang tidak bertugas menunggui ibu Jelita malam ini, Justru di malam lebaran ini, ayah Jelita sedang sibuk meeting dengan pegawai2nya. Maklum saja ayah Jelita adalah seorang pengusaha. Perusahaan keluarga yang berkaitan dengan advertising. Tetapi, akhir2 ini perusahaan ayahnya sedang mengalami masalah keuangan hanya karena kalah tender dengan perusahaan yang menjadi rivalnya. Mungkin saking terlalu jujur, sehingga tanpa ayah Jelita sadari ada rival yang menghalakan segala cara untuk berlaku curang. Bahkan perusahaan ayahnya juga sempat terlambat membayar gaji para karyawannya, sampe2 ada beberapa yang mengundurkan diri, dan sebelumnya sempat berdemo meminta tunggakan gaji yang terpending. Masih untung bank belum sampai menyita aset2 yang dimiliki keluarganya.
Jelita, seorang anak tunggal yang berusaha memahami betul kesulitan yang sedang dialami oleh keluarganya. Mungkin juga karena permasalahan ekonomi yang menimpa keluarganya, sehingga ibu Jelita terbaring sakit. Tak banyak yang dapat dilakukan oleh keluarga Jelita. Air mata adalah satu-satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan apa yang dirasakan. Begitu juga yang dilakukan oleh Jelita malam itu, malam yang semestinya dipenuhi dengan keceriaan dan suka cita menyambut hari Lebaran, tapi justru yang dialaminya adalah kesedihan. Tahun terberat bagi keluarga Jelita, mengalami kebangkrutan dan ibu Jelita terbaring koma di ruang ICCU.
Jarum jam di dinding kamar sudah menunjuk pukul 11 malam, tak terdengar lagi di telinga Jelita kumandang takbir yang menggema. Sudah larut rupanya, tapi kedua kelopak mata Jelita masih saja terbelalak, belum mauu diajak terpejam. Kesedihan menyelimuti hatinya. Memikirkan nasib keluarganya. Memikirkan bagaimana cara membayar pelunasan biaya rumah sakit yang tentunya tidak sedikit, Memikirkan perusahaan ayahnya yang berada di ambang kebangkrutan karena mengalami kerugian besar dan harus mengganti rugi sebesar ratusan juta rupiah, belum lagi gaji karyawan yang belum terbayarkan. Masya Allah, betapa pedih hati Jelita malam itu. Tak henti2nya air mata mengucur deras membasahi pipinya yang putih mulus.
“Ya Allah, mengapa kau timpakan ujian yang begitu berat pada keluarga hamba? Di saat keluarga hamba sedang dilimpahi berkah dan bergelimang harta tak pernah melupakan untuk menyisihkan sebagian yang memang menjadi hak2 bagi orang2 yang tak mampu, dan mengapa di saat yang bersamaan pula ibu hamba harus terbaring koma di rumah sakit.” Kembali air mata berderai, kini semakin bertambah deras. Lalu, diambilnya buku yasiin yang memang sengaja dibawanya dari rumahnya semenjak ibunya di rawat di rumah sakit. Dibukanya lembar demi lembar dan dibacanya lantunan ayat2 dari surat yasiin dengan lirih. Kemudian, sekilas Jelita melihat air mata keluar dari kedua kelopak mata ibunya yang masih terpejam. Rupanya, meski dalam keadaan koma, namun setengah dari kesadaran ibunya mendengar lantunan ayat2 quran itu. Jelita merampungkan ayat terakhirnya baru kemudian menghampiri sang ibu, “Bu, kalo ibu mengijinkan besok Jelita mau mencari kerjaan, yang kerjanya paruh waktu pagi-sore, malamnya Jelita nungguin ibu lagi. Boleh ya, bu? Jelita cuma pengen bisa membantu keluarga kita. Jelita gak mau tinggal diam begitu saja melihat keadaan yang sedang kita alami saat ini. Ibu, Jelita pengen ibu cepet sembuh, biar kita bisa kembali bekumpul seperti dulu lagi, Jelita kangen dengan hari2 kita yang selalu diiringi tawa dan canda, Jelita kangen bisa cerita2 sama ibu, Jelita mau ibu cepet sadar dari koma, Jelita kangen sama masakan ibu.” Kembali air mata Jelita yang mulanya mengering, mengucur deras.
Jam berdentang 1 kali, itu artinya jam 1 dini hari. Suara ayam jantan berkokok terdengar dari kejauhan. Mata Jelita mulai terkantuk. Akhirnya Jelita tertidur di samping ranjang ibunya.
Sinar matahari pagi mulai merembet masuk dari celah tirai jendela yang sedikit terbuka. “Oh, sudah pagi rupanya. Masya Allah, aku belum sholat shubuh.” Jelita pun segera bergegas menuju toilet yang memang berada di ruangan ibunya dirawat.
Selesai sholat shubuh, Jelita menghampiri ibunya untuk berpamitan pulang ke rumah hendak melaksanakan sholat Id dan mencari pekerjaan di hari itu. Tak lama, perawat pun masuk ke ruangan, suara pintu berdecit terbuka, “Selamat pagi mba,” sapa ramah perawat itu, “Selamat pagi juga …., suster, bisa saya minta tolong untuk menjaga ibu saya sampe siang nanti? soalnya saya ada urusan sebentar.”
“Ehmm, saya tugas jaga sampe jam 10 saja, terus nanti ganti shift dengan perawat yang lain, bagaimana mba?”
“Oh, begitu ya,”
“Tapi, kalo saya sih mau2 saja mba untuk menjaga ibu mba Jelita, ehhmm, nanti saya akan minta tolong juga sama teman yang menggantikan jam saya untuk menjagakan ibu mba Jelita sampai mba dateng, gimana? Mba tenang aja, mba selesaikan saja urusan mba dulu, soal ibunya mba Jelita, saya yang handle semua, oke?”
“Ya Allah, Alhamdulillah, terimakasih ya sust, suster baik sekali. Saya jadi lega sekarang. Insya Allah, kalo sudah selesai urusannya, saya langsung kembali ke sini kok. Terima kasih ya sust. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.” “Iya, mba, wa’alaikum salam, ati2 mba.”
########
Setibanya Jelita kembali ke rumah, di rumahnya dijumpainya botol2 minuman. “Masya Allah, apa ini? Ah, aku pulang kan cuma mau mandi dan bergegas ke masjid untuk sholat Id. Nanti saja kutanyakan pada ayah tentang botol2 minuman itu.” ujarnya pada dirinya sendiri. Dengan cekatan, Jelita mempersiapkan segala sesuatunya untuk segera berangkat ke masjid melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
########
Sholat Id yang biasanya Jelita dilakukan bersama2 dengan ibunya, untuk kali pertamanya, kali itu Jelita
datang dan menggelar sajadahnya sendiri di antara kerumun muslimah lain. Betapa miris hatinya menyaksikan kanan kirinya saudara muslimah lain sholat Id bersama2 dengan sanak keluarganya. Tapi, tidak bagi Jelita.
#######
Selesai sholat id dan bersilaturahim ke rumah2 tetangga, Jelita berkeliling kota mulai dari pukul 10an hingga panas terik menyengat, tapi tak ada satupun kantor atau pertokoan yang buka. Oh iya, dia baru sadar kalo hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Jadi pantas saja kalo semuanya tutup. “Masya Allah, bagaimana ini? Kenapa tidak ada satupun yang buka? Kalopun keluar masuk pertokoan, tapi pasti tidak ada satupun yang mau menerima aku kerja karena hanya seorang lulusan SMA. mau kerja apa?” Wajah Jelita pun mulai kusam, kembali murung. Jelita terduduk di kursi taman kota di siang hari itu. Tiba2 dia dikejutkan oleh suara seorang laki2, “Selamat siang, mba?” “Oh, eh, iya siang,” jawab Jelita terbata2.
“Mau ini?” si laki2 itu menawarinya sebotol air mineral. Jelita menggeleng, “Enggak, mas, makasih.”
“Aku ini cowok baik2 kok, gak mungkin kan di hari idul fitri seperti ini aku menodai hari yang indah ini dengan perbuatan yang tidak baik. ehmm, boleh tau isi stopmap merah itu mba? tapi, kalo boleh kutebak, Mba mau cari kerja ya?” ujar cowok itu sok tau.
Jelita terdiam.
“Maaf, mba, saya Rindra Akmal Putra, kebetulan di tempat kerja ku ada lowongan pekerjaan, ya siapa tau mba bersedia mengisi lowongan itu.”
Jelita mulai agak tertarik dengan tawaran yang diajukan cowok bertubuh tinggi tegap itu. “Kerja? Jadi apa?”
“Kerja di restoran, jadi waitress. Gimana, mba mau?”
“Ehm, iya2 aku mau, aku mau, aku memang sedang perlu banget kerjaan. Mau jadi waitress kek, OB kek, apapun itu yang penting halal, aku mau.”
“Ini kartu nama ku, senang bisa membantu mba. Ehmm, nama mba siapa ya?” tanyanya kemudian.
“Oh, iya mas, namaku Jelita. Jelita Afifa. Terima kasih atas bantuan dan tawaran lowongan kerjanya ya mas, ehmm, ngomong2 kapan aku bisa mulai kerjanya?”
“Karena ini masih bertepatan dengan hari raya, jadi masih libur, ehm, mba Jelita bisa mulai kerja besok Rabu, gimana, setuju?” tanya cowok itu meminta persetujuan.
“Oh, iya2, alhamdulillah ya Allah, akhirnya hamba mendapatkan pekerjaan. Terima kasih ya mas, terima kasih sekali, Allah yang akan membalas semua kebaikan hati mas,” ujarnya terharu.
“Iya, sama2. Mba gak usah sungkan2 ya. Oke, kalo begitu aku tunggu besok Rabu di restoran ya.”
“Iya, pasti aku datang ke sana. Sekali lagi te …. ” Belum lagi Jelita menyelesaikan kalimatnya sampai titik, si cowok itu pun segera bergegas meninggalkan Jelita sendiri di taman kota, “Ya Allah, baik banget sih tu orang, semacam malaikat penolong saja.” kata Jelita dalam hati sambil terus menatap kartu nama berwarna biru muda dan bergegas meninggalkan taman kota menuju rumahnya.
########
Di rumah, Jelita menjumpai ayahnya yang ternyata sedang tidur lelap di kamarnya. Betapa kagetnya Jelita melihat botol2 minuman di lantai kamar yang juga ditemukannya di meja ruang tamu tadi pagi.
“Masya Allah, ayah! Apa2an ini?! Ayah, bangun! Bangun, yah!” diguncang2kannya tubuh ayahnya sampai benar2 membelalakan kedua kelopak matanya. “Eh, kamu Ta, udah pulang ya?” tanya ayahnya dengan cuek.
Tanpa mengubris pertanyaan ayahnya Jelita langsung memburu ayahnya dengan beberapa pertanyaan yang terlintas dalam benaknya sedari pagi, “Ayah, kenapa banyak sekali botol2 minuman di ruang tamu, di lantai kamar, berserakan dimana2, ayah minum ya tadi malam?”
“Kamu, gak usah ikut campur urusan ayahmu ini, urusi saja urusanmu sendiri, urus saja ibu kamu yang sedang koma itu.” ujar ayahnya dengan nada kasar.
“Masya Allah, ayah. Ayah sadar gak dengan apa yang sudah ayah lakukan?” …. “Ayah, sekarang jawab pertanyaan Jelita, apa tadi ayah gak sholat Id?”
“Sholat Id? Aduh ayah ketiduran, jadi ayah tadi gak sholat Id. Kenapa kamu gak membangunkan ayah?” jawab ayahnya sekenanya.
“Mana Jelita tau kalo ayah begini. Ayah ketiduran karena ayah mabuk berat, ada beberapa botol minuman berserakan dimana2. Yah, Jelita tau kesulitan ekonomi yang sedang kita alami saat ini, tapi bukan berarti ayah lantas melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Ayah dulu gak pernah seperti ini, ayah dulu selalu rajin beribadah dan mendekatkan diri pada Allah, ayah dulu selalu menjadi ayah yang tegar dalam menghadapi setiap ujian dari Allah, ayah dulu gak pernah kenal dengan yang namanya minum2an, ayah dulu gak pernah berputus asa ketika datang cobaan. Ayah, ingat kan, kesulitan ekonomi yang kita alami sekarang bukanlah kali pertama kita alami, tapi sudah yang ketiga kalinya, tapi ayah selalu bisa berfikir dengan kepala dingin, jernih, dan bijak dalam setiap menyelesaikan masalah, tapi kenapa kali ini ayah justru melakukan hal yang membuatku jadi kecewa sama ayah!” ujar Jelita panjang lebar.
“Itu dulu, Ta, sekarang situasinya berbeda, ekonomi keluarga sedang terguncang dan ibu kamu sakit, lalu siapa yang bisa menolong ayah?”
“Yah, ayah percayakan sama Allah, Dia-lah satu2nya penolong bagi hamba2Nya yang pada waktu mengalami kesulitan dan musibah. Kita akan memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Nya, Dia-lah satu2nya tempat kita mengadu ketika kita tengah mengalami berbagai himpitan ujian. Ayah, Allah tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuannya. Allah memberi ujian berat ato ringan karena Allah yakin kita bisa melewati ini semua dengan kuat, sabar, dan ikhlas, agar kita semakin mendekatkan diri pada Allah. Allah benci dengan orang2 yang mudah berputus asa.”
“Cukup! Kenapa kamu malah menggurui ayah dengan khotbah mu itu?!” ucap ayahnya dengan nada ketus.
“Ayah, Jelita hanya ingin ayah sadar, Jelita hanya ingin mengingatkan agar ayah gak melakukan hal bodoh ini lagi. Ayah, ibu butuh kita, ibu butuh kekuatan kasih sayang dan doa dari kita. Ayolah ayah, jangan terlalu terpuruk seperti ini, Jelita cuma pengen ayah yang seperti dulu, ayah yang tegar dan kuat,” panjang lebar Jelita menumpahkan segala isi hatinya, tanpa disadarinya air matanya tak mampu untuk dibendungnya lagi.
“Tinggalkan ayah sendiri. Ayah baru pengen sendiri, jangan ganggu ayah. Keluarlah,” perintah sang ayah pun dituruti Jelita yang beranjak dari kamar ayahnya menuju ruang tamu hendak membereskan botol2 minum yang berceceran.
########
Di rumah sakit, kembali Jelita merenung dan tampak murung. Tapi, tidak diperlihatkan pada ibunya yang sedang tergolek koma. “Ya Allah, ujian apa lagi ini? Sanggupkah aku memikul beban yang begitu berat ini, Ya Allah? Sampai kapan ini semua akan berakhir?” ucap Jelita lirih agar tak terdengar oleh ibunya.
########
Rabu ….
Pagi yang cukup cerah, Jelita mengemasi barang2 dan memasukan baju kotornya ke dalam tas kresek hitamnya. Setelah berpamitan pada ibunya, Jelita bergegas memburu waktu karena hari itu Jelita akan memulai bekerja di restoran milik cowok yang waktu itu memberinya sebuah kartu nama. Dibacanya lagi kartu nama yang bertuliskan “Rindra Akmal Putra” yang di sebelah kanan bawah tertulis nama restoran dan alamat lengkapnya disertai dengan nomer telfon. Begitu bersemangatnya Jelita pagi itu, “semoga hari ini menjadi hari keberuntungan buatku. amin” katanya dalam hati.
#########
Tak berapa lama, setelah berputar2 mengelilingi jalanan yang mulai macet oleh kendaraan, akhirnya Jelita menemukan alamat yang dimaksudkan dalam kartu nama itu, “nah, ini dia, bismillahirrohmanirrohim” ujar Jelita. Dia pun mencoba masuk ke dalam restoran melalui pintu kaca yang kebetulan memang tidak terkunci dan dari luar terlihat lengang, sepi, belum ada satu orang pun pembeli yang datang. “wah, besar juga ya restoran ini.”ucapnya penuh kekaguman.
“Assalamu’alaikum, permisi, apa ada orang di sini?” tanyanya berharap akan ada jawaban dari seseorang dari dalam ruangan.
srek srek srek, ngiek, terdengar suara pintu dibuka, “Permisi, pak, bu? Assalamu’alaikum”
“Ya, wa’alaikum salam,” …… “Oh, kamu? Kamu cewek yang waktu di taman kota itu kan?”
“Ehmm, iya pak, eh mas, aduh, bingung manggilnya apa ya?” …. “Maaf pak, saya langsung masuk ke dalam soalnya tadi pintunya gak dikonci.”
“Oh, iya, memang gak saya kunci sejak shubuh tadi. Ehmmm, ternyata kamu datang lebih awal dari karyawan yang lain, ini kan baru jam 6.30. Padahal restoran ini baru buka jam 10.”
“Oh, terlalu pagi ya pak, kalo gitu saya pulang dulu aja deh pak,”
“Eh, gak usah, gak pa2, kita kan bisa ngobrol2 dulu sambil menunggu yang lain datang.” …. “Oh ya, panggil saja saya Rindra, biar lebih akrab.”
“Oh, iya, pak, eh, mas, eh, Rindra.” ….. “Ehmmm, pak, eh aduh, hmmm maksud saya, mas Rindra, yang punya restoran ini ya?”
“Panggil saja Rindra, gak usah pakai mas ato pak.” …… “Iya, kebetulan saya pemiliknya, ya restoran kecil2an aja sih, sebagai bentuk pembuktian ke ortu kalo aku bisa mandiri dan bisa membangun ini dengan hasil jerih payah sendiri,” …… “Sebenernya aku masih kuliah, baru skripsi sih, dan kebetulan kuliahku memang berhubungan dengan bisnis, makanya aku melihat peluang bisnis yang sedang bergeliat dan bisa berkembang pesat ya salah satunya restoran.” ….. “Rencananya sih, kalo bisa tahun depan aku pengen buka cabang di kota lain, doakan ya,” panjang lebar Rindra ngomong tanpa titik koma, seolah2 mereka sudah saling kenal lama.
“Amin, semoga keinginannya bisa segera terwujud.” Jelita ikut mengaminkan doa Rindra.
“Oya, ini kunci loker kamu, dan baju seragamnya ada di dalam loker, selamat bergabung ya, semoga kamu betah kerja di sini.”
Jelita menerima kunci loker dan segera bergegas menuju ruang loker, tak lupa sebelumnya dia mengucapkan banyak terima kasih pada Rindra karena sudah bersedia menerimanya sebagai karyawan di restorannya.
#######
Hari pertama di restoran, semua teman2 Jelita terlihat begitu welcome dan beramah tamah, tapi, ada satu cewek yang terlihat bermuka masam dan jutek. Apalagi ketika si cewek jutek itu melihat keakraban Jelita dengan Rindra. Cewek itu bernama, Eliana.
#######
Hari ke tujuh, Eliana semakin terbakar cemburu setiap kali melihat keakraban Rindra dan Jelita. Sampai2 dia berniat untuk mencelakakan Jelita. Dan pada suatu hari, Eliana merencanakan sesuatu dengan membuat berita yang tidak benar. Eliana membuat fitnah kalo Jelita mengambil sebagian uang yang ada di kasir. Dan berita itupun sampai juga di telinga Rindra.
“Astaghfirullahal ‘adzim, itu gak bener. Sama sekali aku gak ngelakuin hal itu. Aku memang sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibuku di rumah sakit, tapi sama sekali aku gak pernah berniat sedikitpun untuk mengambil uang yang bukan menjadi hak ku. Meskipun baru beberapa hari aku kerja, tapi aku sudah mulai nyaman kerja di sini, jadi mana mungkin aku melakukan tindakan bodoh itu, gak ada sedikitpun dalam benakku niat untuk mengambil uang di kasir. Itu fitnah, pak!” begitulah pembelaan yang diutarakan Jelita ketika Rindra memanggilnya di ruang kerjanya dan disaksikan beberapa karyawan lain, yang sebelumnya sudah bersepakat dengan Eliana untuk meyakinkan Rindra akan berita bohong tentang uang dari kasir yang sengaja diambil Eliana dan disimpan di loker Jelita, tanpa sepengetahuannya, pastinya.
“Pak, untuk membuktikan apakah Jelita benar2 mengambil uang itu ato gak, kita cek aja loker milik Jelita.” usul Eliana dan setujui oleh semuanya.
“Baiklah, mari kita lihat dan buktikan.” Mereka pun bergegas menuju ruang loker, tak ketinggalan pula Jelita, si tersangka utama. Dan ketika loker dibuka, Rindra menemukan amplop coklat yang tebal, yang dipastikan isinya adalah uang, bernominal 5 juta.
“Masya Allah, gak mungkin, ini sama sekali gak benar, ini fitnah, aku gak pernah mengambil uang itu.” …. “Pak, percayalah sama saya, saya gak pernah berniat untuk mencuri uang di kasir, meskipun saya memerlukan uang itu, tapi sejak kecil orang tua ku selalu mengajarkan kepada ku untuk berlaku jujur dan melarang mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak ku. Saat ini ibu ku memang sedang dirawat di rumah sakit dan perekonomian keluarga ku juga sedang tidak baik, tapi bukan berarti aku menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan uang. Tetapi kalo toh, pak Rindra dan teman2 masih juga tidak percaya, baik, saya akan mengundurkan diri dan keluar dari restoran ini. Tapi, saya hanya ingin mengingatkan pada semua, suatu saat Allah akan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah.” …. “Terima kasih, pak, sudah memberi saya kesempatan untuk bisa bekerja di sini. Terima kasih teman2 karena kalian sudah baik kepada saya,” …. “Saya pamit, assalamu’alaikum.”
Jelita pun akhirnya keluar dari restoran itu tanpa membawa sepeserpun uang hasil kerjanya. Sesampainya di rumah sakit, Dia kembali terlihat murung di sudut ruang kamar ibunya. Padahal sudah beberapa hari terakhir ini Jelita tampak begitu ceria sepulang dari tempat kerjanya itu.
########
Di restoran, Milly, teman Eliana yang juga sahabat dekat Jelita di restoran, diam2 melaporkan peristiwa yang sebenarnya terjadi beberapa hari lalu yang berkaitan dengan hilangnya uang di kasir. Milly yang waktu kejadian melihat langsung apa yang disaksikannya ketika Eliana melakukan aksinya mengambil uang di kasir dan memasukannya ke dalam loker Jelita ternyata tanpa sepengetauan Eliana, Milly mengambil gambarnya melalui kamera handphone-nya.
“Milly, kenapa waktu itu kamu tidak langsung bilang sama saya? Kamu tau kan Milly, meski saya baru mengenal Jelita beberapa hari, tapi entah kenapa saya bisa nyambung setiap kali ngobrol dengannya, seolah2 sudah saling kenal lama. Sebenarnya saya ingin percaya dengan semua yang dikatakan Jelita waktu itu, tapi dengan melihat bukti2 yang ada hilanglah kepercayaan saya terhadap Jelita, dan sekarang kamu tau Mill, saya sangat menyesal karena sudah tidak mempercayainya.” …. “Sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan, aku akan menemuinya di rumah sakit.”
#######
Di rumah sakit, tanpa harus mencari dan bertanya pada perawat jaga dimana letak ruangan ibu Jelita dirawat, Rindra langsung dapat menemukan ruangan karena beberapa hari lalu ketika mereka berbincang2 Jelita sempat menyebutkan nomer ruang dimana ibunya dirawat.
“Assalamu’alaikum” …. “Jelita, ada hal yang ingin kusampaikan padamu, perihal kejadian di restoran kemarin.” …. “Bisa kita bicara di luar?”
Jelita menengok ke arah ibunya sebentar, kemudian mengangguk dan mereka berjalan menuju sebuah kursi panjang di ruang lobi rumah sakit.
“Jelita, aku mau minta maaf sama kamu, karena aku sudah gak percaya sama kamu, bodohnya aku, seharusnya aku lebih percaya sama kamu daripada Eliana. Meskipun dia bekerja di restoran lebih lama dari kamu, tapi aku lebih percaya padamu daripada Eliana. Mungkin akan lebih baik jika aku tidak lagi mempekerjakan Eliana di restoran karena dia sudah memfitnahmu.”
“Dra, aku rasa itu keputusan yang salah dan tidak bijak. Keputusan yang hanya sepihak tentu akan sangat tidak adil baginya.” ujar Jelita menyanggah keputusan Rindra. “Untuk sekedar membuatnya jera atas tindakannya tidak perlu sampai harus memecatnya kan?” …. “Apalagi dia jauh lebih lama bekerja di restoran dari pada aku, aku rasa dia melakukan hal itu karena ada alasan tertentu, mungkin hanya perlu sedikit klarifikasi darinya agar permasalahan menjadi lebih gamblang.” …. “Jadilah pemimpin yang bijak bagi anak buahmu, karyawan2mu cukup banyak, seharusnya kamu bisa menjadi pemimpin yang baik untuk dirimu sendiri dan juga bagi anak buahmu. Pertimbangkan masak2 sebelum mengambil keputusan.”
“Tapi, dia sudah memfitnahmu,”
“Iya, aku tau, Dra, tapi apa kamu gak memikirkan bagaimana jika kamu berada di posisinya ketika kamu tiba2 dipecat sementara dia memang sangat memerlukan pekerjaan itu. Aku tau bagaimana susahnya mencari uang, aku tau gimana rasanya hidup susah. Uang, manusia seolah2 telah diperdaya oleh uang, dimana harga kebutuhan pokok juga semakin melambung dan saat ini untuk mendapat pekerjaan pun susah.” …. “Tolong, jangan pecat dia, kalo dia malu atas apa yang sudah dia perbuat, pasti dia akan menyadari kesalahannya dan dia akan minta maaf, itu sudah cukup bukan untuk membuatnya jera?”
“Masya Allah, kamu ini begitu bijak sekali dalam menyikapi permasalahan. Padahal jelas2 kamu sudah difitnah olehnya, tapi kamu malah memaafkannya.”
“Kalo aku gak memaafkannya ato justru berbuat lebih buruk dari apa yang sudah dilakukannya padaku, berarti aku juga sama buruknya dengannya, bahkan lebih buruk dari dia.” …. “Ibu ku selalu mengajarkan kepadaku agar memaafkan kesalahan orang lain dan jangan pernah menjadi seorang pendendam. Itu saja.”
“Subhanallah, ternyata banyak hal berharga yang bisa aku pelajari dari kamu. Selama aku mengenalmu banyak hal yang bisa kupetik dari setiap sisi kehidupan mu. Padahal baru 1 bulan kita kenal tapi aku merasa seperti sudah lama mengenalmu.”
“Belajar gak hanya di bangku sekolah saja kan, belajar tentang hidup juga gak selalu dilihat dari segi usianya seseorang, meski aku baru tamat SMA, tapi pengalaman hidupku jauh lebih banyak daripada kamu, si pak bos restoran, hehehehe …” tawa renyah Jelita mulai terdengar lagi. Ya, memang setiap kali mereka berbincang, ada saja yang bisa membuat Jelita tertawa di tengah situasi sulit yang sedang dialami keluarganya. Rindra memang si “guardian angel” bagi Jelita.
“Oke, baiklah kalo begitu, aku mengaku kalo ilmuku memang tertinggal jauh dari kamu, bu guru, heheee….” ledek Rindra, “Ehmmm, by the way, mulai besok, mau gak kamu kerja lagi di tempat ku?”
“Ehhmmm, gimana ya? iya deh aku mau….” jawab Jelita mengiyakan.
########
Sekembalinya Jelita bekerja di restoran milik Rindra, hubungan Eliana dan Jelita pun mulai membaik setelah Rindra mengorek latar belakang fitnah itu muncul dan disebarkan pada karyawan lain tentang uang yang hilang beberapa waktu lalu. Diakuinya kalo motif dari fitnah itu hanya karena Eliana merasa cemburu setiap kali melihat keakraban Jelita dan si pak bos Rindra. Dan Eliana juga sudah meminta maaf kepada Jelita atas sikapnya yang kekanak2an tersebut.
#######
Satu bulan berlalu, hubungan antara pak bos dengan karyawan, Rindra dan Jelita pun semakin akrab. Rindra selalu mengantar dan menjemput Jelita dari rumah ke RS dan ke restoran.
Di rumah sakit, keadaan sang ibu masih juga belum menunjukan tanda2 yang baik, masih terbujur koma. Dan sementara itu, sang ayah sedikit demi sedikit sudah dapat membangun kembali usahanya dari nol dan kembali menjalin hubungan kerja sama bisnis dengan partner kerjanya.
######
Di rumah sakit,
Pada saat keadaan sudah mulai membaik, Jelita pun tetap dapat melanjutkan kuliahnya sambil bekerja. Ayahnya mulai menjalin hubungan kerja dengan mitra bisnisnya, tetapi justru sang ibu mengalami collapse. Keadaan ibunya yang diperkirakan oleh dokter takkan bertahan lama, ternyata benar. Di sore itu, Jelita ditemani sang ayah dan Rindra berada di RS. Di sana terjadi kepanikan yang luar biasa, semua peralatan medis pun dikerahkan untuk memberikan pertolongan kepada ibu Jelita. Tapi sayang, Allah SWT berkehendak lain. Ibu Jelita menghembuskan nafas terakhirnya ketika keadaan ekonomi keluarganya sudah sedikit menemui titik cerah.
Seusai pemakaman ibunya, Jelita pun tetap berusaha tegar kala itu, walaupun sebenarnya ingin teriak sekencang2nya dan meminta kembali ibunya untuk dapat terus menemaninya sampai akhir hayatnya, tapi bagaimana pun juga, Allah sang Pemilik Kehidupan-lah yang menentukan hidup mati seseorang. Jelita berusaha ikhlas melepas kepergian sang ibu menghadap sang Khaliq.
Betapa terguncangnya Jelita kehilangan sang ibu dalam keadaan dia belum menjadi seseorang yang dapat membahagiakan dan membanggakan ibunya. Kehilangan sang ibu ketika usianya masih tergolong belum siap untuk dapat menangkis setiap terpaan2 badai yang berusaha menghadangnya. Tetapi, dengan hadirnya Rindra yang selalu mendampinginya dan menguatkannya, Jelita berusaha untuk menjadi wanita yang kuat dan tabah.
########
Sepeninggal ibu Jelita, keadaan ekonomi keluarganya sedikit lebih baik. Tetapi, tampak terlihat kejanggalan atas sikap ayah Jelita beberapa minggu terakhir ini. Ayah Jelita mulai sering telfon2an dengan seseorang yang katanya partner kerjanya. Rupanya, sang ayah mulai bersikap tidak jujur. Ya, walau baru 2 bulan kepergian sang ibu, ternyata ayah Jelita sudah mempunyai calon ibu baru bagi Jelita. Sampai pada suatu ketika sepulang dari kantornya, sang ayah datang ke rumah dengan membawa seorang wanita untuk diperkenalkan kepada Jelita.
“Jelita, kenalkan ini tante Bernadeth, sekretaris ayah, dan calon ibu baru kamu. Bagaimana menurutmu jika ayah menikah lagi?” …. “Ketika kamu sibuk bekerja dan kuliah, ayah jadi kesepian.”
Tercengang sesaat Jelita menyaksikan sesosok wanita seksi yang usianya kurang lebih 5 tahun lebih tua dari Jelita. Seketika Jelita beranjak dari duduknya dan mengatakan kepada sang ayah, “Ibu, baru meninggal 2 bulan yang lalu, yah, secepat ini ayah menentukan sikap untuk melupakan dan mencari pengganti ibu? Maaf ayah, Jelita tidak butuh ibu baru dalam hidup Jelita. Kalo ayah bersikeras untuk memilih wanita ini dan menikah dengannya yang sepatutnya menjadi anak ayah, baik, Jelita akan pergi dari rumah dan jangan pernah mencari Jelita ketika ayah tertimpa kesusahan atas apa yang sudah ayah putuskan sekarang.” …. “Jelita akan kemasi barang2 dan segera meninggalkan rumah ini, silahkan ayah berbuat sesuka hati ayah. Jelita tidak peduli.” ujar Jelita dengan jengkel.
Selesai mengemasi barang2nya di koper, malam itu juga Jelita pergi meninggalkan rumah kenangannya bersama ibundanya. Walau langkah kaki terasa begitu berat meninggalkan rumah kenangan yang sudah 18 tahun terukir bersama sang ibu, namun, demi sebuah ketetapan hati dan cintanya terhadap sang ibu, Jelita memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sementara di sebuah rumah kos yang berukuran 2 x 3 m di dekat kampusnya. Hal itu dia ceritakan pada Rindra yang kini resmi menjadi pacarnya.
########
Di restoran,
Beberapa bulan kemudian, ketika restoran sedang sangat ramai oleh pelanggan yang datang, manakala Jelita sedang membawa nampan berisikan segelas orange juice yang hendak diantarkan untuk pengunjung, betapa kagetnya dia menjumpai sesosok wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Bernadeth yang datang bersama sesosok laki2 bertubuh gemuk berkepala plontos. Tapi dia bukanlah ayahnya, padahal setau Jelita, seminggu setelah dia pergi dari rumahnya, ayahnya dan wanita itu telah menikah “siri”. Maka terjadilah pertengkaran adu mulut di sana.
Rindra pun segera datang untuk melerai pertengkaran sengit itu. Sementara itu sang ayah ditelfonnya untuk segera datang ke restoran Rindra dan menyaksikan langsung kelakuan istri sirinya di belakang ayahnya. Ternyata selama Bernadeth menikah dengan ayah Jelita, Bernadeth sudah menguasai hampir seluruh harta kekayaan milik ayah Jelita dan mengambil alih tugas manakala ayah Jelita tengah bertugas bisnis ke luar kota. Disaat itulah, Bernadeth mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan dan mengobrak abrik pembukuan dana keluar masuk perusahaan. Termasuk membuat surat bermaterai pengajuan balik nama salah satu perusahaan milik ayah Jelita yang berada di cabang luar kota. Ayah Jelita memang sudah terlalu percaya pada Bernadeth, sehingga ayah Jelita memberi kepercayaan penuh dan menyerahkan kuasanya untuk mengurus perusahaan. Tak urung, hubungan kerja sama dengan klien mengalami permasalahan, bahkan ada pembatalan hubungan kerja. Maka, terbongkar sudahlah semua kebusukan Bernadeth dan menyesal pulalah ayah Jelita dengan mengambil keputusan beberapa bulan lalu untuk menikahi wanita itu yang ternyata mempunyai jiwa matrealistis dan suka menuntut ini itu pada ayah Jelita, minta dibelikan mobil mewah, apartement, perhiasan emas bertahtakan berlian, dan barang2 mewah lainnya. Padahal ibu Jelita selama menjadi istri syah dari ayahnya tidak pernah menuntut ini itu.
Setelah sang ayah meminta maaf pada Jelita atas keegoisan sikapnya, ayah dan anak itu pun saling berpelukan.
Sang ayah pun berniat untuk membawa kasus penipuannya ke jalur hukum. Dengan begitu tentu akan ada keputusan yang seadil2nya bagi wanita itu di atas meja hijau.
Selama proses persidangan berlangsung, hakim memutuskan bahwa semua hasil kekayaan diserahkan kembali kepada ayah Jelita dan wanita itu harus mendekam di balik jeruji besi selama 10 bulan masa tahanan dan denda sebesar 50 juta.
########
Lima tahun kemudian, ketika usia Jelita menginjak ke 23 tahun, Rindra beserta kedua orang tuanya datang bertandang ke rumah Jelita untuk melamar Jelita. Dengan suka cita keluarga pihak Jelita pun menerima pinangan Rindra. Keluarga mereka pun bahagia, walau sebenarnya kebahagiaan mereka terasa tak lengkap tanpa kehadiran ibu Jelita yang telah tiada.


0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.